Wednesday, 30 December 2015

50 ways to encourage a child

https://www.facebook.com/HeadStartgov/photos/a.287704094606286.70421.255094691200560/957617634281592/?type=3&theater

Saturday, 19 December 2015

Baby Photography by Anamaria Brandt

Hậu trường chụp ảnh bé gây sốt vì đáng yêu không đỡ nổi

Làm việc với các siêu mẫu nhí như thế này đảm bảo các nhiếp ảnh gia phải vất vả lắm đây! :)

Posted by Webtretho on Thursday, 12 November 2015

Friday, 18 December 2015

cute girl

Sophie found Santa at Walmart this evening. She saw him then kept sneaking up on him. She asked him if he was Santa at first and if you turn up the volume you can hear the rest. So cute and innocent. I love this!!

Posted by Robert Riley on Wednesday, 9 December 2015

Baby Wrap

Sunday, 13 December 2015

Pudim de Leite Condensado

Pudim de Leite Condensado

Com uma receita tão fácil quanto essa, dá pra fazer pudim de leite condensado agora!Para mais vídeos, te inscreve no canal: http://migre.me/scg4O

Posted by Tastemade Brasil on Wednesday, 2 December 2015

Friday, 27 November 2015

6 Langkah Bentuk Anak Mandiri dan Disiplin

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/11/27/nyg338328-6-langkah-bentuk-anak-mandiri-dan-disiplin
Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Ibu dan anak (ilustrasi)
Ibu dan anak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Ada beberapa hal penting yang bisa ditiru dari nilai positif pola asuh Jepang. Mulai dari melatih anak disiplin, mandiri juga membangun kelekatan yang erat antara orang tua dan anak. Bagaimana caranya?

Psikolog Anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi, mengatakan senjatanya adalah hubungan disiplin dengan kelekatan erat sekali. “Disiplin tidak akan jalan, kalau kita tidak dekat dengan anak,” ujarnya dalam acara Learning from the Positive of Japanese Parenting, di Aeon Mall, BSD City.

Cara pertama untuk menjadikan anak mandiri dan disiplin adalah ciptakan waktu bersama secara rutin. Idelanya 10 sampai 15 menit setiap hari. Tapi kalau tidak bisa, ibu ayahnya bekerja, bisa seminggu dua atau tiga kali bikin jadwal jalan bersama anak.

Kedua, kenali tahapan perkembangan anak sesuai usia anak. Misalnya anak usia dua tahun, dia sudah bisa mandiri. Dia bisa melepas kaos kaki, membuka tas, menarik resleting, mengambil mainan untuk dikembalikan di kotak mainannya. “Itu sudah cukup latihan dalam dirinya,” ujarnya.

Ketiga, beri kesempatan dan apresiasi. Misalnya anak pakai baju sendiri, melepas sepatu sendiri, dan lainnya. Saat belajar mandiri anak memang akan lama melakukannya, terkadang orang tua tidak sabaran dan ingin segera membantunya. Kadang-kadang orang tua atapun pengasuh anak tidak memberikan kesempatan. “Padahal practice make perfect. Jadi kalau masih lama, berarti masih butuh latihan,” ujarnya.

Keempat, tegakkan batasan. Aturan tetap penting, anak harus tahu semua ada batasannya. Tidak semua yang dia mau, bisa dia dapat. Ada kepentingan-kepentingan orang lain. Dia harus paham itu. Ini melatih empatinya dia juga. “Jadi kamu harus mengantri dulu, di belakangnya dia,” ujar Vera menirukan ungkapan orang tua ke anak.

Kelima, beri contoh yang baik. Tidak usah ceramah berulang kali, nasihat secara berulang. Cukup berikan contoh bagaimana berdisiplin diri, bagaimana mandiri melakukan sesuatu semua sendiri, anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya.

Keenam, anak itu tumbuh dari pembiasaan. Pembiasaan itu penting. Apalagi di tahun-tahun awal orang tua disarankan sudah mulai dengan satu kebiasaan tertentu yang nanti akan terbawa sampai dia dewasa kelak.

Misalnya pembiasaan merapikan mainan, sikat gigi, cuci tangan atau merawat diri lainnya. “Kalau anak masih kecil, masih hanya bisa terlentang saja, belum bisa melakukannya sendiri, kitanya yang membiasakan, anak bisa merasakan ritmenya,” ujarnya.

Sunday, 18 October 2015

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA

https://www.facebook.com/groups/182047648480885/permalink/1051599021525739/

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.
"Maaf, Bapak dari mana?"
"Dari Indonesia," jawab saya.
Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak
anaknya dididik di sini," lanjutnya.
"Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya.
"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.
Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.
Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.
Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.
Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."
Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa "gurunya salah". Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut?
Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau...; Nanti...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun, di lain pihak juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.
Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan manusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.
Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang "tambah pintar" dan ada pula orang yang "tambah bodoh".
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.
Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman.