Friday, 7 August 2015

10 things every new dad should know


http://sg.theasianparent.com/10-things-every-new-dad-should-know/?utm_content=buffer8487f&utm_medium=social&utm_source=plus.google.com&utm_campaign=buffer

by Felicia Chin


 

Pregnancy is a huge milestone not only for woman, but for men as well. The inevitability of parenthood may seem like something strange and scary for a soon-to-be father.

1. You may never eat what you like again

1. You may never eat what you like again

You and your wife enjoy fine dining, French cuisine, sashimi buffets, you get picture. Go for as many of your favourite dinners as you can before or even during the pregnancy.
Chances are when the baby arrives, you won’t be having much of a say as to where to go for dinner. Those candlelit, quiet restaurants will never look at you the same way again.
2. Parenthood is a team game
2. Parenthood is a team game
Even if your wife stays at home and you go to work, understand that both parties have to contribute to taking care of the latest edition to the family.
Help your wife out by changing the baby’s diapers, feeding the baby at dinner and even answering those mind-numbing crying sessions in the middle of the night.
3. Say goodbye to sleep
3. Say goodbye to sleep
With reference to said crying sessions mentioned in the above paragraph, note that you will no longer have peaceful nights.
Your baby will shriek, scream and cry at the most inopportune moments in the early morning. When your kid eventually becomes a grumpy, emotional, hormonal teenager, you can tell yourself it was all worth it!
4. Help may not always be help
4. Help may not always be help
It may seem a brilliant idea at first to get a fellow relative, neighbour, mother or even a family friend to come over and take care of your baby. However the fact remains that parenting styles differ greatly with people, especially those from different generations.
Your aunt may take a more stern approach, while your cousin may let the baby roam free. Too many contradicting styles will only work against the babies development. The best methods lie with the baby’s own parents.
5. Your wife will change
5. Your wife will change
Both partners know that physical and emotional changes will come upon the pregnant spouse. Bellies start swelling and the lady begins to have wild mood swings. It is the husband’s role to be there when his wife needs him, and to take cover when necessary.
6. Cherish these times
6. Cherish these times
Who knows when you might have a baby again? The first time raising a baby is always a special experience. While the process may seem tough at times, it will always be a time that every parent will keep close to their hearts. Make it count.
7. It will be messy
7. It will be messy
Think poop, vomit, soiled diapers, spilt food, dirty clothes. Raising a baby may seem even more troublesome and dirty than keeping a disobedient puppy. Expect the mess and be there with your spouse to clean up after.
8. Different methods are acceptable
8. Different methods are acceptable
You and your wife will be bound to disagree on parenting styles. But that doesn’t mean that one style is right, while the other is wrong.
Stick to what you think is right and bond with the child. Your wife will soon see that you are a good father, and that you want to be involved in your child’s life.
9. Babies will cry
9. Babies will cry
If there’s one thing every parent knows and dreads, it’s that babies will cry. They will cry when they are hungry, or uncomfortable.
They will cry when they tired or hot. They will cry when they are separated with their parents and will cry when they are reunited. babies will cry. So find a way to soothe the savage child. If not, just grit your teeth and bear it.
10. Nothing has changed
10. Nothing has changed
It may seem like a major incident in your life, but the fact is, nothing has changed in the world around you. People still see you as the same person, your friends are still there and your job still awaits you each day.
Having a baby does not mean your life has been messed up for good. The world is still out there waiting for you to rejoin it and bring along a young, new addition.

tumbuh kembang

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204682778570696&set=a.10204682776770651.1073741898.1272973238&type=1







Wednesday, 5 August 2015

MEMAHAMI PERSPEKTIF BAYI

http://www.ayahbunda.co.id/bayi-psikologi/memahami-perspektif-bayi



Memasuki usia 6 bulan bayi mulai mengembangkan kemampuan dan“gaya” persepsi—yakni waktu dan perhatian yang diberikan untuk membaca situasi sebelum membuat keputusan dan bertindak. 

Secara umum, gaya persepsi seseorang masuk ke dalam salah satu dari dua tipe: reflektif atau impulsif. Bayi yang reflektif cenderung melihat sesuatu dengan daya konsentrasi kuat dan mampu berdiam diri. Sementara bayi yang impulsif punya kecenderungan mudah terpancing, namun juga mudah bosan dalam waktu singkat.

Tak jadi masalah termasuk yang mana gaya persepsi bayi Anda, karena setiap bayi mengembangkan kemampuan mental yang luar biasa, terutama melalui kegiatan bermain. Anda bisa membantunya dengan memberikan banyak pengalaman baru yang menarik bagi bayi.

Dalam buku Baby Minds oleh Linda Acredolo, Ph.D. dan Susan Goodwyn, Ph.D., orangtua diajak memahami bahwa perspektif bayi bisa sangat berbeda. Apa yang menarik bagi kita belum tentu menarik baginya. Kuncinya, pahami kehendak bayi dan tanggapi kebutuhannya. Bayi belajar jauh lebih cepat saat ia memelajari apa yang menarik baginya, bukan yang terbaik menurut Anda.

•    7 bulan: 
Bayi mulai memaknai kata-kata yang didengarnya. Ia mengerti saat Anda mengatakan “tidak”. Bayi juga mulai menunjukkan ketertarikan pada mainan dan mampu mengamati benda-benda di sekitarnya. Saat mainannya terjatuh ia akan mencari, pertanda memorinya sudah berkembang. 

Bantu dia...
Jika Anda melihatnya sedang berusaha meraih benda yang jauh dari jangkauan, jangan langsung membantunya. Biarkan ia melatih kegigihan dan terbiasa berusaha dalam memperoleh sesuatu. 

•    8 bulan:
Bayi menunjukkan perkembangan daya ingat yang luar biasa di usia ini. Coba perhatikan, ia akan bereaksi pada nyanyian dan permainan yang sering didengarnya, serta menoleh saat namanya dipanggil. Ia juga mengembangkan kemampuan mengantisipasi tindakan, seperti menyodorkan kedua tangan saat Anda mencuci tangannya. 

Bantu dia...
Ketimbang selalu melarangnya memegang benda-benda ‘berbahaya’ di rumah, sediakan sebuah activity center dengan benda-benda yang bisa dipukul, diputar, diremas, dibunyikan, atau digigit untuk memuaskan minatnya bereksplorasi.

•    9 bulan: 
Di usia ini, bayi mulai bereaksi terhadap rutinitas. Ia akan melambaikan tangan saat berpisah atau menjulurkan kaki saat akan dipakaikan kaus kaki. Ia menghapal letak benda-benda berikut nama dan fungsinya, misalkan sisir untuk rambut, botol untuk minum. Yang juga menakjubkan baginya adalah melihat benda-benda terjatuh. Saat bayi menjatuhkan sendok, diambil oleh Anda, ia akan menjatuhkannya lagi dan lagi. Ia bukan berusaha membuat Anda marah, kok. Secara alami pemandangan ini memang sangat menarik baginya.

Bantu dia...
Tanyakan pada bayi, “di mana bonekanya?” atau “ayah mana?” untuk membantunya melatih pemahaman penting bahwa benda-benda tetap ada meskipun tak terlihat olehnya.

•    10 bulan: 
Bersiaplah terkejut saat bayi mulai bisa menunjuk gambar benda yang dikenalnya di buku, meskipun ia belum dapat berkonsentrasi dalam waktu lama. Ia mulai bisa mengucapkan satu dua patah kata yang bermakna. Bayi usia ini juga sudah memahami kata-kata serta konsep sederhana seperti “di sini” dan “di sana”, “keluar” dan “masuk”, serta “atas” dan “bawah”. 

Bantu dia...
Saat bayi menjatuhkan benda-benda, ia sedang belajar keterampilan “melepaskan” sesuatu dari genggaman. Jangan dicemberuti, ya. Ajak ia untuk mengambil kembali benda yang dilepaskannya, meskipun itu artinya Anda harus rela jongkok berulang kali untuk memberi contoh pada anak Anda.

•    11 bulan: 
Bayi Anda mulai suka bercanda dan ia akan berulangkali melakukan apa pun yang membuat Anda tertawa. Di usia ini ketertarikannya akan buku akan semakin terasah, terutama jika Anda terbiasa membacakannya buku sejak dini. Jika Anda memanggilnya, ia akan mengulang namanya. Ia juga akan menggelengkan kepala untuk menolak, menandakan kemampuan berekspresi yang kini mulai matang. Bayi di usia ini senang membuat kebisingan dan akan dengan senang hati menggoyangkan atau memukul apa pun yang menimbulkan bunyi. 

Bantu dia...
Ajak ia bermain ciluk ba, permainan favorit semua bayi. Saat membacakan buku bergambar, tunjuk benda-benda berikut namanya, kemudian minta bayi mengulangi menunjuk benda-benda yang Anda sebutkan.

•    12 bulan: 
Ia mulai bisa mengucapkan dua tiga kata yang bermakna. Bayi sudah bisa mengambil mainan dan memberikannya kepada Anda, serta menunjuk benda-benda yang dikenalinya secara spontan. Ia sudah bisa memahami pertanyaan sederhana dan mulai menikmati buku-buku bergambar. Saat berganti baju, ia akan mengangkat kedua tangan untuk membantu Anda melepaskan bajunya. 

Bantu dia...
Biasakan menunjuk sembari menyebutkan nama-nama benda di sekitarnya. Saat beraktivitas, sebutkan apa yang sedang Anda lakukan dengan terperinci, misalnya, “Bunda cuci tangan” atau “Bunda minum air” untuk membantunya memaknai benda serta kegiatan sehari-hari.

•    15 bulan: 
Ia akan sangat senang membantu pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengelap, dan mengepel. Meski pun ia belum sepenuhnya mengerti arti setiap kata, namun bayi di usia ini sudah mengerti kalimat-kalimat yang lebih kompleks.

Bantu dia...
Berikan ia sapu kecil untuk meniru Anda melakukan pekerjaan beberes, atau kereta dorong kecil untuk menemani Anda “berbelanja”. Ini akan menstimulasi pencapaian, meningkatkan rasa percaya diri sekaligus melatihnya mandiri.

•    18 bulan:
Memasuki usia ini, ia sudah mampu diajak berkomunikasi dengan lebih mantap dan sudah mengerti prinsip sebab akibat. Anda mulai bisa menilai gaya persepsi mana yang paling mendekati karakteristik anak. 

Lakukan tes kecil: tunjukkan sebuah kartu bergambar, dengan beberapa kartu bergambar lain di bawahnya. Minta ia memilih gambar yang paling serupa dengan gambar di kartu pertama. Bayi yang reflektif akan memerhatikan seluruh gambar dengan seksama sebelum membuat pilihan, dan biasanya pilihannya benar. 

Sementara bayi impulsif akan melihat sekilas semua gambar, lalu mengambil keputusan dengan cepat, yang sering salah. Anak reflektif biasanya akan lebih bisa mengikuti pelajaran dengan baik saat bersekolah kelak, terutama di kemampuan membaca. Namun bukan berarti reflektif selalu bagus, karena di beberapa kesempatan seperti saat melakukan permainan, anak impulsif akan lebih cepat mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Bantu dia...
Ajarkan bayi untuk merangkai kata-kata ke dalam kalimat sederhana. Perkenalkan ia konsep kepemilikan, terutama dengan benda-benda miliknya: “Ini bolamu, itu bola kakak”.

(IKA/ERN)

Saturday, 1 August 2015

tips & trik

https://www.facebook.com/TokoBukuAYYA/photos/a.1555988881348945.1073741834.1551245571823276/1555988904682276/?type=1







Friday, 24 July 2015

Ajarkan Disiplin Pada Anak

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Balita/Psikologi/ajarkan.disiplin.pada.anak/001/007/1374/1/1



Disiplin perlu diterapkan sedini mungkin agar anak dapat memahami konsep "benar dan salah", meski ia butuh waktu untuk memahami  konsep tersebut. Beberapa ahli mengatakan, kesalahan terbesar dalam mendisiplinkan anak adalah ketika bertentangan dengan alam mereka.  

Dalam  buku “The Child Whisperer; The Ultimate Handbook for Raising Happy, Successful, and Cooperative Children”   Carol Tuttle, terapis energi dan guru spiritual asal AS menuliskan tentang empat tipe anak. Berdasarkan itu,  menurutnya, Anda dapat menerapkan disiplin dengan memahami apa yang ia butuhkan, bagaimana mengerti maksud lain dari sikapnya –caranya dengan bertanya pada diri sendiri-, dan bagaimana cara menghadapinya. 

Tipe 1: Anak penuh cinta

KEKUATAN: ada di dalam kemampuan bersosialisasi. 
KARAKTER: sosok  yang friendly dan periang. Setiap hari ia  penuh semangat dan kerap random dalam melakukan atau menyukai sesuatu. Anak tipe ini terkesan hiperaktif dan sulit diandalkan.
KEBUTUHAN: sesuatu yang sifatnya menyenangkan untuk dilakukan dan happy parents.

CARA MENGHADAPI

1. refleksikan situasi dengan bertanya pada diri sendiri, misalnya:
  • Apakah ia dikontrol berlebihan?
  • Jangan-jangan ia merasa sendirian?
  • Apakah Ia merasa hidupnya kurang playfull?
Jika benar, bisa jadi perilakunya adalah bentuk ungkapan non-verbal-nya. 

2. Berikan kejutan-kejutan kecil seperti jalan-jalan ke area bermain air atau ke pasar malam. Anak tipe ini butuh suasana baru yang ceria.

3. Kenalkan ia pada anak dari teman Anda. Ia butuh bermain dengan anak lain dan bahagia bila bisa menjalin persahabatan dengan banyak anak. 

4. Ciptakan suasana seru dan menyenangkan, meski dengan cara yang sederhana. Misalnya, manfaatkan sisir untuk kegiatan bernyanyi. 





Tipe 2: Anak sensitif

KEKUATAN: terletak pada emosionalnya. 
KARAKTER: perasaannya sangat halus, lemah lembut, dan sangat berhati-hati menggunakan perasaannya yang membuatnya bijaksana, meski ia sering dibilang pemalu dan hipersensitif. 
KEBUTUHAN: kekuatan perasaan, sebab ia lebih sering melihat dan menilai sesuatu berdasarkan rasa. Ia juga membutuhkan koneksi kuat dengan keluarga karena hanyakeluarga yang dianggap paling mengerti perasaannya. 

CARA MENGHADAPI

1. Refleksikan situasi dengan bertanya pada diri sendiri, misalnya:
  • Apakah ia merasa tidak didengarkan suaranya?
  • Apakah ia merasa keinginannya sering diabaikan?
  • Apakah ada kegiatannya yang tidak sesuai dengan keinginannya?
Jika benar, bisa jadi perilakunya itu adalah bentuk ungkapan non-verbal nya. 

2. Tenangkan ia dengan cara memeluk, mencium, atau mengukapkan kata-kata cinta. Kata-kata dari orang  dicintainya akan membuatnya luluh. 

3. Berikan ia waktu untuk relaks tak perlu didondir dengan pertanyaan “kenapa” atau omelan. Bisa jadi ia jenuh dengan aktivitasnya saat itu. 

4. Buat koneksi dengan ‘signal’ yang sama dengan balita Anda. Masuk dan dalami perasaannya. Caranya tak lain adalah sering ngobrol berdua atau lakukan aktivitas nge-date. 




Tipe 3: Anak tekun

KEKUATAN: terletak pada tubuh atau fisiknya. 
KARAKTER: anak yang sangat aktif, energik gigih, super sibuk, dan selalu tekun melakukan kegiatan yang sudah dipilihnya. Tak heran bila banyak yang menyebutnya sebagai anak ambisius dan penuntut. 
KEBUTUHAN: pengalaman-pengalaman baru yang menantang. Hal ini membuat ia juga butuh orangtua yang selalu mendukung dirinya melakukan kegiatan-kegiatan barunya. 

CARA MENGHADAPI
1. Refleksikan situasi dengan bertanya pada diri sendiri, misalnya:
  • Apakah ia merasa kurang dengan aktivitas yang menuntut tubuhnya untuk bergerak?
  • Apakah ia terlalu sering mendengar kata “Tidak” ?
  • Apakah ada sesuatu yang membuat dirinya mudah menyerah?
Jika benar, bisa jadi perilakunya adalah bentuk ungkapan non- verbal-nya. 

2. Selalu penuh semangat untuk mendorongnya melakukan tugas yang sudah dipilihnya atau dorong ia mencoba hal-hal yang baru. 

3. Bebaskan ia bergerak dengan membiarkannya  mengekplorasi apa yang ada di dekatnya. Biarkan ia bebas menggerakan anggota tubuhnya. 

4. Sediakan dan up-date list tempat petualangan yang perlu ia coba. Info terbaru bisa Anda peroleh dari rubrik weekenders ayahbunda. 




Tipe 4: Anak super serius

KEKUATANNYA adalah sisi intelektual.
KARAKTER suka menganalisa, menghasilkan sesuatu, dan memilih untuk menyelesaikan tugas apa pun yang sudah dimulai. Biasanya tugasnya berakhir dengan tepat dan digambarkan secara detail. Ia cenderung suka mengkritik. 
ANAK BUTUH dihargai hasil karyanya dan biasanya ia akan memberikan sesuatu sesuai dengan apa yang ia terima. 

CARA MENGHADAPI

1. Refleksikan situasi dengan bertanya pada diri sendiri, misalnya:
  • Apakah ia butuh dihormati lebih besar dibandingkan anak lain?
  • Apakah ia butuh waktu untuk fokus dalam memelajari sesuatu?
  • Apakah ada sesuatu yang menurutnya tak sesuai dengan pengertiannya?
Jika benar, bisa jadi perilakunya itu adalah bentuk ungkapan non-verbal-nya. 

2. Hormati apa yang sudah dilakukannya.

3. Dukung langkah-langkahnya, meski terkadang kurang tepat. Beri ia  kritik, namun  cara yang membuatnya terkesan bodoh. 

4. Fokus mendengarkan ketika ia menjelaskan sesuatu.


Terapkan Disiplin Sedini Mungkin

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/terapkan.disiplin.sedini.mungkin/001/007/551/1/1
Walau usianya baru satu tahun, anak pandai berulah. Dapatkah disiplin diterapkan pada anak-anak usia ini?

Mengapa harus disiplin? Tentu saja anak usia satu tahun dapat mulai diperkenalkan pada disiplin. Bahkan, sejak berusia antara enam hingga sembilan bulan, anak sudah memahami arti perkataan "tidak" atau "jangan". Di usia satu tahun anak mulai memahami perintah-perintah sederhana.

Disiplin memang perlu diterapkan seawal mungkin, karena sejak dini anak perlu memahami konsep "benar - salah". Walaupun, anak membutuhkan waktu sedikit lama untuk benar-benar memahami konsep tersebut seutuhnya.

Selain itu, balita juga perlu disiplin untuk mengajarkan kontrol diri, serta menghargai aturan sedini mungkin. Dengan cara ini anak akan semakin memahami dan menghargai keberadaan orang lain di luar dirinya. Sehingga, anak yang awalnya egosentris, menjadi lebih sensitif pada orang-orang di sekitarnya.

Cara paling mudah bagi anak-anak usia ini untuk mengenal disiplin adalah melalui contoh dan bimbingan. Selain itu, mereka juga membutuhkan pembiasaan dengan pola yang sama dan konsisten.

Mendisiplin tepat. Dalam menerapkan disiplin, beberapa hal perlu diingat:

  • Disiplin secara umum dapat bermakna mengajarkan.
  • Anak membutuhkan batasan karena ia masih belum dapat mengontrol dirinya sendiri. Batasan orang tua membuat anak merasa nyaman dan aman.
  • Jika anak-anak usia ini kerap membuat ulah, jangan dulu berpikir mereka nakal. Mereka hanya bereksperimen dengan dunianya. Mereka kerap melakukan observasi apa akibat dari perilakunya. Hindari memberi label, karena label membuat anak merasa yakin ia nakal atau negatif dan mengembangkan perilaku sesuai label.
  • Yang terpenting dalam menerapkan disiplin adalah konsistensi. Jika sekali Anda mengatakan sampah harus dibuang di tempat sampah maka, sampai kapan pun, Anda harus konsisten dengan peraturan tersebut. Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung, sehingga peraturan tersebut tidak lagi berarti bagi anak.
  • Anak-anak usia ini memiliki daya ingat yang pendek. Kita tidak bisa mengharapkan mereka langsung memahami apa yang kita ajarkan dalam sekejap. Anda perlu mengulangi berkali-kali hingga anak mengikuti aturan yang Anda buat.
  • Terlalu banyak kata "tidak" atau "jangan" membuat aturan tidak lagi efektif, karena anak tidak berani melakukan apa pun. Cobalah menawarkan alternatif untuk setiap kata "tidak". Misalnya dengan mengatakan, "Sayang, buku ayah jangan dimainkan. Ayo kita cari bukumu sendiri dan kita lihat isinya! Pasti asyik!"
  • Jika anak berbuat kesalahan atau melanggar aturan Anda, sekali-sekali biarkanlah ia menanggung risikonya, jika tidak terlalu membahayakannya. Dengan cara ini anak berkesempatan belajar dari kesalahannya.

Monday, 6 July 2015

5 Sleep Wives Tales - BUSTED!

http://www.weebeedreaming.com/my-blog/5-sleep-wives-tales-busted
Pam Edwards, Certified Infant & Child Sleep Consultant in Grande Prairie, Alberta, Canada

what do you mean you'll spoil me if you hold me too much!?
what do you mean you'll spoil me if you hold me too much!?

"Wives tale - a common belief about something that is not based on facts and that is usually false."
When it comes to the topic of sleep, everybody has their theories, their beliefs, their tips and tricks.  Sometimes I cringe reading the advice that fellow moms receive when asking sleep-related questions.  It's not as if the advice givers are purposely passing along fallacious information, it's just that they themselves have likely been given this same terrible advice and are just trying to help a fellow mom in a similar situation.  I am here today to debunk some of the Sleep Myths that you may have encountered so we can break this vicious cycle of bad advice!
“Give your baby rice cereal, he’ll sleep longer...”
When your baby isn't sleeping at night (and consequently, you are not either) you will do just about anything to get some more shuteye.  This advice has been around forever but it could not be any further from the truth.  In actual fact, starting solids before the age of 4 months has been proven to disrupt sleep.  Well, that's just about the exact opposite of what we are trying to accomplish here!  Studies have now shown that waiting to begin solids until 6 months protects baby from several complications including iron deficiency, future obesity, food allergies, and illness.  In a perfect world, the equation for a full night's sleep would be as easy as a big bowl of cereal but in actuality, it is not that simple.  Hunger is not the only reason a baby wakes up at night.  Many babies sleep poorly due to sleep associations or overtiredness and in these two cases, hunger has nothing to do with it.  
“Keep baby up during the day/before bed, this will help him sleep longer...”
This advice could not be any more opposite from what it really takes to have good quality, restorative nightsleep.  We know without a doubt that the recipe for a good night's sleep is an age-appropriate daytime schedule with good naps and proper intervals of wakefulness.  If you're curious how long baby should be kept awake, check out my blog here for an idea.  Well-rested children accept sleep more readily, sleep better, and sleep longer than overtired ones.  While it's true that if you keep baby up the whole day one day they may sleep the whole night through because they are absolutely exhausted, be careful - sleep debt is accumulative.  While the effects might not be present immediately, following this night with another day of skipped naps will almost always result in disaster.  When babies (and adults as well) are overtired, the stress hormone 'cortisol' is secreted and cortisol keeps us awake (it's the same hormone that would be released into your body if you were in a situation where you were trying to save your own life - the 'flight or fight response').  Ensuring that babies do not reach this overtired state is pivotal to ensure a good night's sleep.
“You need to get used to baby sleeping with lots of noise, so that he will sleep anywhere...”
Unless by noise, they mean 'white noise' then this advice is also rubbish.  While it's true that we shouldn't feel like we need to tip-toe around our house every time our baby is asleep, we also shouldn't put baby down and then blare the music, run the vacuum in their bedroom, or whatever other 'tricks' we can use to 'get baby used to the noise'.  Do you, as an adult, like to sleep in a noisy environment or do you prefer your quiet, peaceful bedroom when you're trying to catch some shut-eye?  We should give that same level of respect to our babies when they are trying to sleep.  If you're concerned about noise then I strongly suggest investing in a white noise machine to help drown out the sounds (read about the other benefits of white noise here).  This same thing goes for those who say babies need to get used to bright lights while they sleep or that they should get used to sleeping anywhere.  Babies can't communicate with you that they would rather be sleeping in their cozy, dark, bedroom but I will bet that's what they would say if they could!  It is difficult to meet our babies sleep needs, especially at a very young age, as they need so much, but think of good sleep like food for their brain - we wouldn't feed our babies junk food so we shouldn't feed them junk sleep either. 
“If you choose to co-sleep with your baby, you will never get her out of your bed...”
In this example, we will define co-sleeping as sleeping in the same bed as your baby (although some terrible advice givers might make this same comment if you disclose that you are sleeping in the same bedroom but different bed as baby).  Although bedsharing has recently been a hot topic in the media for its correlation to an increase in the risk of SIDS, you should never feel that if you have resorted to this (or even if you have willingly chose it on your own) that your baby will never sleep in their own bedroom again until they go to college (slight exaggeration).  I myself was once a bedsharing momma and to be honest, I wouldn't trade those special memories for the world.  But guess what?  My kid doesn't co-sleep anymore (GASP!)  There are many methods we can use to help baby learn to sleep independently, just as we could if baby was falling asleep nursing or by rocking.  So if this is the sleep arrangement you have chosen then enjoy it - and don't feel like you are doomed to a life of fighting for blankets with your school-aged child (unless, of course, that is what you want).
“If you let your baby cry, she will suffer attachment issues/ADHD/health problems/etc...”
Ah, the age-old cry-it-out debate.  If you are anti cry-it-out I know that I am not going to change your opinion with this article but we need to debunk these myths that are swirling around the Internet and causing guilt and fear in parents who choose to use this method.  Among these 'studies' claiming that cry-it-out is harmful for babies is the idea that "crying-it-out is stressful for babies, flooding their sweet little brains with hormones such as cortisol that interfere with healthy brain development."  While it is absolutely true that ongoing stress is bad for a baby's brain, the stress that is shown to cause developmental problems is the chronic stress suffered by babies who are abused or neglected, or void of any parental figure in their life (such as babies born in orphanages in China).  Does this sound like a baby who is given love and attention during the day but then allowed to cry for a couple of nights to learn self-soothing skills?  Not quite.
As far as 'attachment issues' stemming from sleep training, we must first understand what attachment means.  It is defined as "a child's relationship with his mother or father as it develops over the course of the first year of life."  We help foster this attachment by being responsive to our baby (when he's hungry, when he's wet, when he's sleepy), but attachment isn't this fragile thing that can be broken in a night or two - as per the definition "it develops over the course of the first year of life".  When sleep training is done right (see my bloghere for how we can ensure we are setting ourselves up for success) it doesn't take weeks or months.  It takes days.
Conversely, studies have consistently shown that well-rested children with healthy sleep habits have higher IQs and school test scores, and children that are taught delayed gratification and have been set appropriate boundaries are happier and more content.  It is also shown that the risk of depression, obesity and heart diseases are greater in children and adults that are sleep deprived.
Now I'm not saying I'm the cry-it-out lover of the world, but I do not agree with making parents feel guilty or shameful should they choose to use this method to help baby sleep better.